Soeharto dan Jejak Tiga Dekade Pembangunan: Dari Satelit Palapa hingga Mobil Nasional Dinilai Layak Diberi Penghargaan Tertinggi Negara

MEGAPOLITAN UPDATE

Kamis, 20 November 2025 - 22:06

50108 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Penilaian terhadap peran sejarah Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, kembali mencuat ke ruang publik. Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, pada Kamis (20/11/2025) menyatakan bahwa Soeharto patut mendapatkan gelar pahlawan nasional atas berbagai kontribusi besar yang ditorehkannya selama tiga dekade memimpin Indonesia.

Menurut analisis Jerry, Soeharto bukan hanya berperan dalam menstabilkan politik nasional pasca-1965, tetapi juga membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi akut dan membangun fondasi pembangunan nasional yang masih dapat dirasakan hingga saat ini. Pada awal masa Orde Baru, Indonesia menghadapi inflasi yang amat tinggi, mencapai lebih dari 600 persen. Situasi kritis tersebut perlahan berhasil dikendalikan melalui kebijakan fiskal dan moneter yang ketat serta dukungan tim ekonomi andal seperti Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Ma’rie Muhammad, J.B. Sumarlin, Radius Prawiro, dan Soemitro Djojohadikusumo.

Dalam waktu singkat, inflasi berhasil ditekan hingga menyentuh angka 10 persen, sementara kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional mulai pulih. Stabilitas tersebut menjadi modal penting bagi terjadinya percepatan pertumbuhan ekonomi. Menjelang akhir kekuasaan Soeharto, yakni pada kurun waktu 1996–1997, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,8 persen, melampaui negara-negara maju di Asia Timur saat itu seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Prestasi itu mengangkat reputasi Indonesia sebagai “Macan Asia”.

Kemajuan pesat tidak hanya terlihat pada sektor ekonomi, tetapi juga dalam bidang teknologi komunikasi. Indonesia menjadi salah satu negara ketiga di dunia yang memiliki satelit komunikasi sendiri melalui peluncuran Satelit Palapa A1 pada 9 Juli 1976. Peluncuran ini mempercepat integrasi nasional dan menjangkau komunikasi dari Sabang hingga Merauke. Langkah berani lainnya dilakukan pada awal 1980-an dengan mengakuisisi Indosat dari ITT, perusahaan Amerika Serikat. Aksi korporasi senilai US$ 43,6 juta ini menggambarkan keberanian pemerintah saat itu untuk menjaga kedaulatan teknologi strategis bangsa.

Di sektor industri, Soeharto mendukung kelahiran proyek mobil nasional Timor pada 1996. Meski menuai kritik, proyek ini menjadi simbol awal usaha kemandirian industri otomotif dalam negeri. Pada saat bersamaan, sektor dirgantara berkembang pesat di bawah kepemimpinan BJ Habibie. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) berhasil memproduksi sejumlah pesawat seperti CN-235 dan N-250 Gatotkaca yang menjadi kebanggaan bangsa. Kekuatan alutsista pun diperkuat dengan pengadaan pesawat tempur modern seperti F-5 Tiger, A-4 Skyhawk, dan BAE Hawk.

Penekanan besar juga diberikan pada pembangunan sumber daya manusia. Hingga tahun 1994, pemerintah Orde Baru membangun hampir 150.000 unit Sekolah Dasar Inpres (Instruksi Presiden). Program ini tak sekadar menurunkan tingkat buta huruf, tetapi juga meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar secara signifikan. Dampak jangka panjang dari program ini menjadi objek studi para ekonom dunia dan turut berkontribusi dalam riset yang kemudian memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2019.

Pengaruh Soeharto dalam mengembangkan generasi teknokrat juga menjadi catatan penting. Tokoh-tokoh seperti Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Ali Wardhana, dan Mohammad Sadli, yang dijuluki sebagai “Mafia Berkeley”, merancang kerangka ekonomi nasional yang sistematis dan berkelanjutan. Dalam pendekatan keamanan, figur seperti Jenderal Benny Moerdani dan Ali Moertopo memainkan peranan penting menjaga negeri tetap stabil di tengah turbulensi politik kawasan. Masa itu juga dikenal sebagai satu fase di mana Indonesia menghasilkan jajaran intelektual dan birokrat unggul bertaraf internasional.

Dalam bidang ketahanan pangan, Soeharto mencetak tonggak sejarah melalui capaian swasembada beras pada 1984. Hasil tersebut dicapai lewat program besar yang meliputi pembangunan irigasi, intensifikasi pertanian, penyediaan pupuk, hingga penyuluhan petani melalui forum seperti Kelompencapir. Atas keberhasilan ini, Indonesia menerima berbagai pengakuan internasional, termasuk World Food Day Award dari FAO. Pada 1985, Soeharto diundang untuk berbicara dalam konferensi FAO di Roma, mengukuhkan citra Indonesia sebagai negara berkembang yang berhasil menata ketahanan pangannya sendiri.

Tak berhenti sampai di situ, sejumlah penghargaan bergengsi lain pun diterima selama kepemimpinannya. Antara lain, Global Statesman Award (1988), UN Population Award (1989), Health for All Gold Medal dari WHO (1991), dan UNDP Award pada 1997. Ragam penghargaan ini dinilai sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam menyejahterakan rakyat Indonesia melalui pembangunan jangka panjang.

Jerry juga menyinggung peran krusial Soeharto dalam memulihkan stabilitas nasional seusai peristiwa 30 September 1965. Menurutnya, keberhasilan menumpas pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi titik balik terpenting yang membuka jalan bagi konsolidasi politik nasional serta pembangunan terencana yang berkesinambungan.

Dengan semua pencapaian tersebut—mulai dari pemulihan ekonomi, modernisasi teknologi, pembangunan pendidikan, ketahanan pangan, hingga stabilitas politik—Soeharto dinilai layak dianugerahi gelar pahlawan nasional. Ia disebut telah meletakkan fondasi penting bagi kemajuan Indonesia yang pengaruhnya masih terasa hingga hari ini.

“Dari ekonomi, teknologi, pendidikan, pangan, hingga stabilitas negara, jejaknya luar biasa. Karena itu saya berpendapat Soeharto layak diberi gelar pahlawan nasional,” ujar Jerry. (RED)

Berita Terkait

Wamendagri Membuka Acara Rapat Pimpinan Nasional Asosiasi Keluarga Pers Indonesia ( AKPERSI)
Momentum Idul Fitri, PDBN, PGSI dan RSINU Gandeng Bank BTN, Gelar Khitan Massal Gratis Tahap Kedua
Kanwil BPN Kepri, Kanwil Kemenag Kepri dan Kejati Kepri, Teken MoU Optimalisasi Sertipikas Tanah Wakaf
Satu Dekade IKHROM: Hadiah Umroh Warnai Kemeriahan Pertemuan Tahunan Ke-10 di Semarang
Ketum AKPERSI Apresiasi Langkah Tegas Meutya Hafid Lindungi Anak di Ruang Digital
PW GP Al Washliyah DKI: Pernyataan Kepala BNN RI soal Vape dan NPS Harus Jadi Alarm Nasional
Keberhasilan BNN RI Bongkar Kasus Narkoba Tuai Apresiasi Publik dan PW GPA DKI
Perkuat Sinergi Kajati Kalteng dan Pemerintah Daerah, Kabapas Hadiri Langsung Perjanjian Kerja Sama Implementasi KUHP Nasional.

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 20:03

Pesan Tegas Kakanwil Ditjenpas Sumut Saat Pelantikan: Syukuri Amanah dan Jaga Integritas

Selasa, 26 Mei 2026 - 03:32

Rutan Tarutung Bersama Kodim 0210/ Tapanuli Utara, Polres Tapanuli Utara dan Subdenpom I/2-2 Tarutung Gelar Razia Gabungan Kamar Hunian Warga Binaan

Senin, 25 Mei 2026 - 21:51

Pelatihan Bersama Antara Prajurit TNI AU Dengan Personel US Air Force

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:38

Pokdarkamtibmas Bhayangkara Sumut Dukung Penuh Bareskrim : Berantas Tempat Hiburan Nakal & Narkoba di Medan

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:59

Komitmen Sejahterakan Petani: Kementan Beri Benih, Pupuk, hingga Insentif Penanaman kelapa di Pandeglang

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:05

Klarifikasi Keluarga: Tuduhan Kalapas Labuhan Ruku dan Ka KPLP minta uang kepada almarhum Fanny Ismail Peranginangin tidak benar

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:10

Tuntutan dan Dakwaan Dinilai Tak Terbukti, PH Askani dan Rahim Sebut JPU Keliru Terapkan Konstruksi Hukum

Sabtu, 23 Mei 2026 - 06:12

Panen Raya Jagung di Kebun SAE, Lapas Kupang Sulap Lahan Batu Karang Jadi Simbol Ketahanan Pangan NTT

Berita Terbaru

error: Content is protected !!